subneting

Subnetting

Pada dasarnya subnetting itu sendiri mempunyai peran yang dapat memecah sebuah network besar menjadi beberapa buah subnetwork yang ukurannya lebih kecil. Subnetting juga menyebabkan “pengurangan” jumlah host pada suatu subnetwork, sehingga “beban” yang harus ditanggung oleh subnetwork menjadi lebih ringan, jika kita ingin menggabungkan beberapa network menjadi sebuah network yang berukuran besar maka untuk mengatasi masalah tersebut digunakan teknik supernetting.

Subnetting merupakan teknik memecah network menjadi beberapa subnetwork yang lebih kecil. Subnetting hanya dapat dilakukan pada IP address kelas A, IP Address kelas B dan IP Address kelas C. Dengan subnetting akan menciptakan beberapa network tambahan, tetapi mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut.

Apa tujuan Subnetting?

Apa tujuan Subnetting, Mengapa perlu subnetting atau Apa manfaat subnetting? Ada beberapa alasan mengapa kita perlu melakukan subnetting, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Untuk mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan IP Address.
  • Meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti akibat terlalu banyaknya host dalam suatu network.

Subneting juga disebut VLSM (Variable length Subnet Mask). VLSM merupakan implementasi pengalokasian blok IP yang dilakukan oleh pemilik network (network administrator) dari blok IP yang telah diberikan padanya (sifatnya local dan tidak dikenal di internet, adapun keuntungan dari subnetting vlsm :

  1. Mengurangi lalu lintas jaringan (reduced network traffic)
  2. Teroptimasinya unjuk kerja jaringan (optimized  network performance)
  3. Pengelolaan yang disederhanakan (simplified management)
  4. Membantu pengembangan jaringan ke jarak geografis yang jauh  (facilitated spanning of large geographical distance)
  5. Menghemat ruang alamat.

VLSM merupakan bentuk lain dari tehnik subnetting akan tetapi pada subnetting ini yang digunakan bukan berdasarkan jumlah banyak IP dalam satu subnet/class melainkan banyak host yang ingin dibuat. Hal ini akan membuat semakin banyak jaringan yang dapat dipisahkan pada suatu subnet maupun class. Sebagai contoh, suatu jaringan menggunakan class C dengan alamat network 192.168.32.0. Jaringan tersebut ingin membagi jaringannya menjadi 5 subnet dengan rincian sebagai berikut :

Subnet #1 : 50 host

Subnet #2 : 50 host

Subnet #3 : 50 host

Subnet #4 : 30 host

Subnet #5 : 30 host

Rincian diatas tidak akan tercapai apabila menggunakan static subnetting. Untuk hal tersebut apabila menggunakan subnetting 255.255.255.192 maka hanya terdapat 4 subnet dengan tiap-tiap subnet memiliki 64 host, akan tetapi untuk kasus ini dibutuhkan 5 subnet. Dan apabila menggunakan subnet 255.255.255.224 mungkin bisa 8 subnet tetapi tiap subnet-nya hanya memiliki jumlah host maksimal 32 host, padahal kita butuh 50 host dalam satu subnet.

Untuk itu digunakan VLSM untuk membagi subnet menjadi 4 subnet dengan menggunakan 255.255.255.192 dan subnet yang terakhir dibagi lagi dengan menggunakan subnet 255.255.255.224. Sehingga akan diperoleh 5 subnet dengan subnet pertama sampai ketiga maksimal 64 host dan subnet empat sampai lima maksimal 32 host. Teknik VLSM ini akan dapat mengurangi beban atau pemborosan IP pada suatu perusahan atau gedung yang akan membangun suatu jaringan.

Sebagai gambaran untuk mengenal teknik subnetting ini contoh kasusnya kira-kira seperti berikut, misalkan disebuah perusahaan terdapat 200 komputer (host). Tanpa menggunakan subnetting maka semua komputer (host) tersebut dapat kita hubungkan kedalam sebuah jaringan tunggal dengan perincian sebagai berikut:

Misal kita gunakan IP Address Private kelas C dengan subnet mask default-nya yaitu 255.255.255.0 sehingga perinciannya sebagai berikut:

Network Perusahaan

Network ID : 192.168.1.0

Host Pertama : 192.168.1.1

Host Terakhir : 192.168.1.254

Broadcast Address : 192.168.1.255

Misalkan diperusahaan tersebut terdapat 2 divisi yang berbeda sehingga kita akan memecah network tersebut menjadi 2 buah subnetwork, maka dengan teknik subnetting kita akan menggunakan subnet mask 255.255.255.128 (nilai subnet mask ini berbeda-beda tergantung berapa jumlah subnetwork yang akan kita buat) sehingga akan menghasilkan 2 buah blok subnet, dengan perincian sebagai berikut:

Cara menghitung subnet untuk network class C;

Diketahui network id pada jaringan tersebut adalah 192.168.1.0, yang jika dikonversi menjadi angka biner menjadi seperti pada tabel berikut ini:

Desimal

Biner

192.168.1.011000000.10101000.00000001.00000000

Dan subnet mask default-nya adalah 255.255.255.0, yang jika dikonversi menjadi angka biner akan menjadi seperti pada tabel berikut ini;

Desimal

Biner

255.255.255.011111111.11111111.11111111.00000000

Semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Tujuan dari jaringan tersebut diatas adalah untuk memecah jaringan besar diubah menjadi 2 sub jaringan yang lebih kecil lagi cakupan user yang dilayani. Untuk membuat subnetwork langkah-langkah sebagai berikut;

  • Menghitung jumlah
Jumlah subnet = 2x

dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet.

  • Menghitung jumlah host per
Jumlah host per subnet = 2y – 2

dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62. Host menghitung jumlah blok subnet. Menentukan alamat host dan broadcast yang valid.

  • Kemudian kita akan menghitung jumlah network yang dipakai dengan rumus : x = 2n

x adalah jumlah subnet, karena kita akan membutuhkan 2 network/subnet maka 2 pangkat 1 sehingga hasilnya 2. n merupakan bit yang dipakai diambil dari nomor host yang berada di subnet yaitu 00000000, karena bit yang dipakai 1 maka subnet yang dipakai bukan 2555.255.255.0 tetapi menjadi 255.255.255.128 (11111111.11111111.11111111.10000000).

  • Menghitung jumlah host yang dipakai

Karena kita sudah memakai 1 bit yang berada di subnet mask (10000000) sehingga jumlah bit yang tersisa jumlahnya adalah 7. Kita dapat menggunakan rumus h (jumlah host) = 2m-2 (dikurangi 2 karena untuk network id dan broadcast). Sehingga didapatkan:

h = 27-2

h = 128-2

h = 126

sehingga didapatkan:

Network Divisi A

Alamat Jaringan / Subnet A : 192.168.1.0

Host Pertama : 192.168.1.1

Host Terakhir : 192.168.1.126

Broadcast Address : 192.168.1.127

Network Divisi B

Alamat Jaringan / Subnet B : 192.168.1.128

Host Pertama : 192.168.1.129

Host Terakhir : 192.168.1.254

Broadcast Address : 192.168.1.255

Dengan demikian dengan teknik subnetting akan terdapat 2 buah subnetwork yang masing-masing network maksimal terdiri dari 125 host (komputer). Masing-masing komputer dari subnetwork yang berbeda tidak akan bisa saling berkomunikasi sehingga meningkatkan security. Apabila dikehendaki agar beberapa komputer dari network yang berbeda tersebut dapat saling berkomunikasi maka kita harus menggunakan Router.